I don’t want to see your sadness part 4 ~Another Day before The Day~
Author : Maulisa a.ka Mayuki a.ka Mayujita a.k.a Lee Jin ah
Main
cast : Yui Yoshioka a.ka Lee Yui, Taemin a.ka Lee Taemin, Lee Jinki a.ka
Onew
Suport
cast : Member SHINee, Kim Jongwoon
a.ka Yesung appa (anggap aja marganya yesung jadi Lee hehe ^^), Lee jin hye
a.ka hye jin umma (Immaginary), Park Sun Young a.ka Luna F(x).
Length
: Sequel
Genre : Life, Family, Sad (?)
Rating
: PG-13
Part 4 ~Another Day before The Day~
Jinki/Onew POV
Knock knock...
“ Yui apa kau
sudah pulang? Boleh oppa masuk?” tanyaku sambil mengetuk pintu kamar Yui.
“ Ne Oppa. Come
in” kudengar suara Yui menyahut dari dalam kamar. Ku buka pintu kamar nya. Kulihat
dia sedang duduk di lantai dengan rambut yang masih basah.
“ Kau baru
selesai mandi? Bagaimana gaunnya, kemarin?” tanyaku sambil berjalan
menghampirinya.
“ Ne, aku baru
saja selesai mandi. Aku dan Taemin sudah menemukan gaun yang cukup nyaman
kupakai. Aiisshhh padahal aku benar-benar tidak suka baju yang seperti itu!”
keluhnya. Aku tersenyum memandangnya.
“ Kau sedang
apa? Apa Oppa mengganggumu?” tanyaku ketika melihat barang-barang yang
berserakan di lantai. Dia menggeleng.
“ Tidak kok
Oppa, aku Cuma sedang merapikan beberapa barang yang ada di dalam lemariku.
Begitu banyak barang disini” katanya sambil tersenyum. Aku duduk disebelahnya
dan melihat-lihat beberapa barang yang sedang dia bongkar. Tiba-tiba
pandanganku tertuju pada salah satu barang yang masih ada di dalam lemari.
Benda itu lumayan besar dan diletakkan di pojok lemari paling dalam. Benda itu
terlihat seperti Case gitar. Aku berdiri dan mengambilnya. Benar ini sebuah
case gitar. Kubuka case itu dan ada sebuah gitar model lama yang masih sangat
bagus.
“ Yui, ini
gitar siapa? Bagus sekali” kataku sambil terus memperhatikan gitar itu. Dia
memalingkan pandangannya dari barang-barang yang sedang dipilihnya. Aku
menatapnya. Kulihat dia menatapku agak kaget.
“ Kenapa?
Memangnya ini gitar siapa?” tanyaku lagi. Aku penasaran. Selama 3 tahun ini aku
tidak pernah sekalipun melihat atau mendengar Yui bermain gitar. Dia
menundukkan kepalanya.
“ I..itu
tadinya milikku” katanya pelan.
“ Tadinya?”
kulihat dia mengangguk.
“ Maksudnya?
Apa ini bukan milikmu lagi?” tanyaku. Dia menatapku ragu. Lalu mendesah pelan.
“ Tentu itu
masih milikku tapi.... aku sudah membuangnya. Aku tidak mau memakainya lagi”
katanya. Aku mengeryitkan keningku.
“ Kenapa?”
“ Hanya akan
membawa kenangan pahit” jawabnya datar.
“ Kenangan
pahit? Maksudmu? Apa kau tidak bisa menceritakan kenangan pahit itu padaku?” tanyaku.
Dia menatapku sebentar lalu menundukkan kepalanya dan mulai membuka mulutnya...
“ Sejak kecil...
aku sudah diajari bermusik oleh Umma dan Appa. Setiap hari Umma akan
mengajariku bernyanyi dan ketika appa sedang libur dia akan mengajariku bermain
gitar. Sampai akhirnya aku menjadi cinta pada musik. Aku cinta pada musik
seperti aku mencintai umma dan appa. Pada ulangtahunku yang ke 10 appa
membelikanku gitar ini. Aku sangat senang saat itu. aku selalu membawa gitar
itu kemana pun aku pergi, kesekolah, ke mall, ke supermarket kemanapun. Sampai
dulu aku pernah bermimpi untuk jadi penyanyi, Sesuatu yang sangat ingin umma
lakukan dimasa hidupnya.” Yui tersenyum manis di sela-sela ceritanya. Lalu
kembali melanjutkan ceritanya..
“Ya umma ingin
menjadi penyanyi tapi karena dia menikah dengan appa yang notabene seorang
putra tunggal pewaris Lee corp. Umma rela meninggalkan mimpinya demi mengabdi
pada appa. Lalu ketika umma pergi, hanya gitar ini yang mampu membuatku tenang,
aku selalu memainkan lagu kesukaan umma dengan gitar ini. Karena ketika
memainkannya aku bisa merasakan umma berada didekatku. Tapi 3 bulan kemudian
oppa tahu kan apa yang terjadi?” Seyumnya berubah menjadi senyuman sinis. Aku menatap matanya. Tersirat rasa pedih dan
kecewa yang sangat dalam dimata indahnya. Dia kembali melanjutkan..
“ Ya.. oppa pasti tahu.. appa menikah lagi.
Aku merasa benar-benar benci pada appa. Appa sudah menghianati umma. Apa appa
lupa pada apa yang dulu umma rela lakukan untuknya? Sekarang dia malah
menghianati umma. Makanya sejak itu gitar ini membuatku selalu mengingat hal
itu. jadi aku menyimpannya disini dan berniat kubuang” kutatap mata Yui. Bisa
kulihat disana terdapat kepedihan mendalam, sakit hati dan sesuatu yang sulit
di jelaskan oleh kata-kata. kulihat air mata hampir terjatuh dari ujung
matanya. Aku mendekatkan diriku padanya dan memeluk tubuh kecilnya. Dia
membalas pelukkanku dan mulai menangis lagi.
“ Op..oppa..
aku.. aku.. sebenarnya tidak mau membuang gitar ini.. ta...tapi...” isakknya di
pelukkanku. Aku mengelus rambutnya dan punggungya bergantian.
“ Aku
mengerti.. aku selalu mengerti.. kau tidak perlu membuang gitar ini. Kau hanya
perlu membuat kenangan manis yang lain bersama gitar ini agar kenangan pahitmu
bisa hilang dari gitar ini” kataku menenangkannya. ‘Dan aku harap aku yang
membuatnya bersamamu, Yui’
“ Nah, jadi bagaimana
kalau kau memainkan satu lagu untukku dengan gitar ini? Kau bisa kan?” tanyaku
ketika dia sudah agak tenang. Dia menatapku ragu.
“ Akan kucoba.
Tapi aku tidak janji permainanku akan bagus. Karena sudah tiga tahun aku tidak
pernah bermain gitar lagi” katanya lalu mengambil gitar itu dan memetik
senarnya satu-persatu dan memainkan nada disitu. Sepertinya dia sedang mengatur
nadanya.
“ Baik. Oppa
mau nyanyi lagu apa?” katanya ketika sudah selesai. Aku berpikir sejenak.
“ Bagaimana
kalau kita duet lagu The Name I loved? Apa kau bisa?” tanyaku. Dia terlihat
berpikir.
“ Aku tidak
tahu lagu itu.. tapi.. coba Oppa nyanyikan dulu” katanya. Lalu aku mengangguk
dan mulai bernyanyi.
Soni siryeowa, Saranghae
giyeoki chagapge dagawa aryeo-onda
Ijaeneun
deoisang neoreul bujunghago sipjianeun, Nareul algo itjiman
Gakkai itneun
neol saranghal su eopneun geol itgiae
Nal barabol su
eopneun neol gidarimineomu himdeureo
Ijaen gyeondil
su eopseo irwajil su eopgiae
Nega
Saranghaetdeon geu ireum
Bulleoboryeo
nagalsureok neomu meoleojyeotdeon
Geu ireum
ijaejeokeonokgo, Na oolmeokyeo naeanae soomgo shipeojyeo
Neol
Saranghal su bakkae eopseotdeon, Keu
nareul ijaen alajweoyo
Ireul su
eopneunsarangdo sarang inikka
Kulihat Yui
mencoba-coba nada dengan gitarnya.
“ Apa begini sudah
tepat nadanya?” tanyanya lalu mulai memetik gitarnya. Aku terhanyut oleh
permainan gitarnya yang indah. Beginikah yang dia namakan tidak bisa? Bahkan
setelah 3 tahun tidak bermainpun permainannya sangat indah apalagi jika dia
terus berlatih.
“ Bagaimana?”
tanyanya setelah selesai memainkan semua bagian lagu dengan hampir sempurna
dengan gitarnya padahal aku hanya menyanyikan sebagian lagu. Aku tersenyum
puas. Permainan yang hebat.
“ Benar-benar
hebat! Kau yakin selama 3 tahun tidak pernah latihan? Dan bagaimana caranya aku
bisa tahu bagian akhir lagu ini? Aku kan hanya menyanyikannya sebagian saja?”
tanyaku sambil tertawa. Dia tersenyum.
“ Aku hanya
menebak saja. Jadi apa nadanya tepat?” tanyanya. Ya ampun hanya menebak saja
bisa hampir sempurna begitu apalagi jika dia tahu lagu itu.
“ Wah wah..
spertinya kau bisa menjadi musisi hebat mengalahkan aku dan SHINee haha” kataku
sambil tertawa menatapnya. Dia menatapku, tiba-tiba ekspresi berubah seakan
baru saja mengingat sesuatu.
“ ahh iya
ngomong-ngomong soal SHINee, apa oppa punya video konser SHINee dari awal
sampai yang paling baru?” tanyanya. Aku menatapnya bingung. Kenapa tiba-tiba
dia bertanya tentang konser SHINee bukankah dia tidak peduli dengan hal seperti
itu. bahkan selama 3 tahun ini dia tidak tahu apapun tentang aku adalah member
SHINee.
“ Kenapa kau
tiba-tiba menanyakan hal itu? bukankah kau tidak pernah tertarik?” tanyaku. dia
tersenyum paksa.
“ Sebenarnya
aku tidak peduli tapi mau bagaimana lagi. Aku kalah taruhan” jawabnya. Aku
mengerutkan keningku.
“ Maksudmu?”
“ Sudahlah
oppa, aku malas mengingat kejadian itu lagi. Jadi apa oppa punya?” tanyanya
tidak menjawab pertanyaanku. Sepertinya dia memang tidak mau cerita jadi aku
hanya mengangguk sebagai jawaban.
“ Ya, aku punya
di kamarku” dia langsung tersenyum cerah. Lalu berdiri dan meletakkan gitarnya
kembali ke case nya.
“ Nah, kajja”
katanya setelah merapikan kembali case gitarnya. Lalu menarik tanganku untuk
berdiri dan mengikutinya.
“ Kemana?”
“ Ke kamar
oppa, aku harus menontonnya secepat mungkin agar cepat berakhir” jawabnya
datar. Aku hanya bisa mengerutkan keningku dan mengikuti arah tuntunannya.
Yui POV
“ wahhh Oppa
ternyata sangat berbeda jika sudah berada di atas panggung” kataku, menoleh
kearah Jinki oppa yang duduk di sofa disebelahku. Aiisshhh ternyata dia sudah
tertidur dengan kepala terkulai disofa. Benar-benar! Jadi sejak tadi aku
berbicara sendiri. Haa~ sudahlah.. mungkin oppa lelah. Aku melirik jam dinding
kamar Oppa. Ya ampun sudah jam 1 pagi! Pantas saja oppa tertidur. Aku mematikan
DVD player yang sudah selesai menayangkan sebagian konser SHINee tadi. Ya baru
sebagian! Aku belum selesai menonton semuanya. Aiisssshh rasanya aku hampir
gila disuruh menonton semua konser itu. Tapi karena aku sudah berjanji jadi
harus kutepati. Huh! Dasar namja imut! Awas saja kubalas kau lain kali!
Aku berjalan
kearah tempat tidur Jinki oppa dan mengambil selimutnya lalu menyelimuti Jinki
oppa yang sedang tertidur di sofa. Setelah itu aku berjalan keluar kamar Jinki
oppa menuju kamarku. Hooaaammmm.. ternyata aku juga sudah mengatuk. Huh~~ awas
saja namja imut itu kalau sampai aku telat kesekolah besok! Tak akan kumaafkan.
***
“ Yui! Cepat
bangun! Kau harus sekolah! Yak! Lee Yui!” aku merasakan tubuhku
diguncang-guncang keras oleh seseorang yang sedang berteriak. Aku mengerang
sedikit.
“ Satu jam lagi
deh oppa” ucapku pelan. Aku benar-benar mengantuk.
“ Yak! Kau ini
sudah mau ujian sekolah! Jadi kau harus sekolah! Ayo cepat bangun dan mandi!
Atau aku yang akan memandikanmu!” aku masih memejamkan mataku, tidak
menghiraukan ancaman Jinki oppa.
“ Aiisshh anak
ini.. baiklah jika itu yang kau mau” katanya pelan lalu mulai menarik selimutku
dan kurasakan tangannya membuka kancing paling atas piyamaku. Aku tersentak dan
segera bangun.
“ Yak! Oppa!!”
protesku. Sambil memegang satu kancing yang tadi dilepas Jinki oppa. Kulihat
dia menatapku kesal.
“ Kalau aku
tidak melakukan itu kau pasti tidak akan bangun! Sudah cepat mandi sana! Kalau
kau juga tidak mau mandi sendiri aku yang akan melakukannya! Palli!” katanya
kesal. Aissshhh dia seram kalau sudah begitu. Segera saja aku masuk kamar mandi
untuk membersihkan diriku. Daripada dimandikan olehnya iissshhh membayangkannya
saja bikin aku jijik. 5 menti kemudian aku keluar dari kamar mandi dan memakai seragamku,
setelah menyisir rambutku, aku berjalan keruang makan dimana sudah ada Appa,
Jin hye ahjumma dan Jinki Oppa. Mereka sedang memakan sarapan mereka. Aku duduk
di sebelah Jinki oppa dan memakan sarapanku dalam diam.
“ Hari ini aku
yang akan mengantarmu kesekolah, Yui” kata appa memecah keheningan. Aku
mengangkat kepalaku dari sarapanku menatap appa.
“ Tidak perlu”
sahutku acuh.
“ Tidak, hari
ini appa akan mengantarmu. Appa harus memastikan kau benar-benar kesekolah.
Tidak seperti minggu lalu, kau membolos untuk pergi ke Game center” kata appaku
tegas.
“ Hari ini aku
tidak akan bolos. Hari ini akan ada pemeriksaan kesehatan dan beberapa ulangan
jadi aku akan masuk” kataku datar. Ya.. aku memang suka bolos beberapa kali
tapi tidak sering. Aku membolos hanya jika di sekolah sedang tidak ada
pelajaran yang menarik atau ada guru yang tidak hadir. Kulihat appa masih
menatapku ragu, seakan tidak percaya pada apa yang baru saja kuucapkan.
“ Kalau appa
tidak percaya, baiklah aku mau diantar kesekolah. Tapi bukan dengan appa. Tapi
dengan Jinki oppa” kataku datar tapi tegas. Lebih baik diantar oppa dibanding
appa. Setidaknya didalam mobil nanti aku bisa mengobrol dengan Jinki oppa
daripada hanya diam bersama appa. Appa menarik napas panjang dan
menghembuskannya.
“ Tapi oppamu
akan segera ke dorm dan..”
“ Tidak
apa-apa. Aku yang akan mengantarnya appa” kata Jinki oppa. Aku tersenyum puas.
“ Apa kau yakin
Jinki?” tanya appa. Jinki oppa mengagguk mantap lalu bangun dari kursinya.
“ Kajja! Nanti
kau bisa terlambat, aku pergi dulu umma, appa” kata Jinki oppa berjalan keluar
ruang makan setelah berpamitan. Aku mengikutinya tanpa mengatakan apa-apa. Selama perjalanan
ke sekolah aku dan Jinki oppa membicarakan banyak hal.
“ Pulangnya
harus kujemput tidak?” tanya Jinki oppa setelah mobilnya masuk kegerbang
sekolahku. Aku menggeleng.
“ Tidak perlu.
Oppa kan harus kerja bersama SHINee. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula aku akan
main dulu pulang sekolah” jawabku enteng. Jinki oppa menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“ Kau tidak berubah.
Ya sudah.. jangan main ketempat yang aneh-aneh ya. Kalau sampai iya. Aku akan
menghukummu” katanya sedikit mengancam. Aku hanya nyengir (bhsnya ga enak)
menanggapinya.
“ Iya..
aku tahu.. sudah..Hati-hati ya oppa, aku pergi dulu” kataku sebelum turun dari
mobil dan berjalan masuk kedalam sekolahku.
Aku berjalan
sepanjang koridor menuju kelasku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak
kesekolah, padahal aku hanya bolos 3 hari. Ketika sudah sampai aku melihat
seorang yeoja yang tidak kukenal duduk di kursiku. Kenapa dia duduk disitu? Itu
kan kursiku. Aiiissshhh.. Aku berjalan menghampirinya.
“ Itu kursiku”
kataku datar tepat didepan yeoja itu. yeoja itu mengangkat kepalanya dan
menatapku bingung.
“ Maaf?”
katanya. Aiissshhhh yeoja ini tuli ya?
“ Itu kursiku”
ulangku lagi.
“ Ahh...
maafkan aku.. aku pikir kursi ini kosong. Karena kemarin tidak ada yang
menempatinya” jawab yeoja itu lalu merapikan buku dan tasnya. Bersiap untuk
pindah.aku menatap yeoja itu. benar aku belum pernah melihatnya.
“ Memangnya kau
siapa? Kau anak baru?” tanyaku. dia tersenyum dan mengulurkan tangannya.
“Park Sun Young imnida. Kau bisa memanggilku Luna” katanya
riang. Aku menatap tangan terulur yeoja itu lalu memperhatikan yeoja itu dari
atas sampai bawah. Kulitnya agak cokelat, badannya tidak kurus dan tidak gemuk,
Rambutnya yang di cat pirang dikuncir kuda. dia tampak berani sekali mencat
pirang rambutnya. Mungkin dia mengikuti tren artis sekarang, seperti halnya
Namja imut itu.
“ Lee Yui ” jawabku datar tanpa
menyambut uluran tangannya. Dia menarik kembali tangannya. Tampak sedikit salah
tingkah. Lalu aku duduk di kursiku.
“ Ma.. maaf.. apa kau tidak
mengenalku?” tanyanya lagi. Aku menatapnya tanpa ekspresi.
“ Kau Park Sun Young kan? Bisa
dipanggil Luna? Tadi kau yang bilang begitu” jawabku datar. Dia terlihat tidak
puas dengan jawabanku.
“ Bukan.. bukan itu. apa kau
tidak mengenal wajahku?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.
“ Kenapa memangnya?”
“ Ahh begitu.. tidak apa-apa..
aku Cuma berharap kita bisa menjadi teman baik” katanya kembali riang lalu
berjalan menuju kursi dibelakang kelas yang tidak berpenghuni.
“ Yeoja aneh!” gumamku pelan.
***
Author POV
Bel sekolah Yui
sudah berdering 10 menit yang lalu. Para siswa dan siswi segera berhamburan
keluar dari sekolah. Tapi berbeda dengan Yui yang masih tinggal dikelasnya yang
mulai kosong.
“ Hooaaammm”
Yui menguap setelah selesai mengumpulkan jawaban ulangan Sejarahnya di
pelajaran terkahir. Dia merasa kurang percaya diri dengan jawaban ulangannya
tadi. ‘sudahlah Yui, yang penting kau mengerjakannya’ pikirnya. Lalu Dia
menatap keluar jendela. Diluar butiran-butiran kecil air hujan mulai menempel
di jendela. Agak jauh di bawah pohon cherry didekat lapangan voli, dia melihat
seseorang dengan seragam yang berbeda. Awalnya Yui tidak mau peduli dengan
orang itu sampai tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan sebuah e-mail masuk.
From : Namja
Imut
To : YuiJ
Message : Yak!
Bukankah bel sekolahmu sudah berbunyi 10 menit yang lalu? Tapi kenapa kau belum
keluar juga! Apa kau tidak tahu di luar sudah hujan?! Aiiisshhh kau ini
benar-benar. Andai saja aku tahu no telpmu aku akan meneleponmu dan memakimu
sekarang!
Yui menatap isi
e-mail itu dengan bingung. Lalu menekan tombol Reply dan mulai mengetik balasannya
untuk Namja itu.
From : Yui J
To : Namja Imut
Message :Yak!
Apa sih maksudmu? Aku tidak mengerti , tiba-tiba mengirimiku e-mail begitu! Kau
pikir kau siapa? Hah? Aiissssshhh Namja Imut! -____-
Yui menekan
tombol send dengan perasaan jengkel. Apa maunya sih Namja gila itu?
Drrt...Drrtt..
tak ada satu menit balasannya dari Taemin sudah masuk.
From : Namja
Imut
To : YuiJ
Message :Coba
kau keluar dan lihat aku di bawah pohon cherry dekat lap. Voli! Cepat! Aku
mulai basah!
Yui tersentak
dan kembali memperhatikan seseorang dibawah pohon cherry yang daunnya hampir
habis karena musim gugur tadi. Walaupun kurang jelas tapi Yui bisa mengenali
Siluet itu.
“ Aiissshhh namja
bodoh! Kenapa berdiri disitu kenapa tidak berteduh saja di pos satpam? Lagipula
apa yang dia lakukan disini sih?!” gumam Yui kesal. Lalu mulai merapikan
buku-bukunya dan beranjak keluar gedung sekolah.
Taemin POV
From : Taeminnie
To : Yeoja
cengeng
Message :Coba
kau keluar dan lihat aku di bawah pohon cherry dekat lap. Voli! Cepat! Aku
mulai basah!
Aku menekan
tombol send untuk mengirim e-mail ke Yeoja cengeng itu. Dan kembali
memperhatikan sekeliling. Sekolah ini sudah mulai sepi. Mungkin karena hujan
para siswa dan siswi tidak ada yang mau tinggal lebih lama. Sehingga
menimbulkan kesan seram dan misterius pada sekolah ini. Aku merinding
membayangkan sekolah ini berhantu seperti di film-film.
“ Aiisshhh..
lama sekali yeoja itu. apa dia tidak takut didalam sendirian?” gumamku sambil
mengusap-usap kedua tanganku yang mulai kedinginan oleh angin musim gugur ini.
Tak lama kemudian kulihat yeoja itu berlari kecil kearahku sambil menutup
kepalanya dengan kedua tangannya.
“ Yak! Apa yang
kau lakukan disini? Kenapa tidak berteduh?! Lalu apa yang kau lakukan di
sekolahku?” omelnya ketika sudah berada tepat didepanku tanpa menurunkan kedua
tangannya dari kepala. Aku tersenyum lalu membuka jaketku dan menutupi
kepalanya dengan jaketku. Dia menatapku bingung.
“ Mengomelnya
nanti saja. Sekarang kita harus cepat-cepat sebelum hujan turun semakin deras
dan toko perhiasannya tutup” kataku sambil menariknya kearah motorku yang
berada tak jauh dari kami. Dia hanya pasrah mengikuti arah tuntunanku.
***
“ Sekarang jelaskan!” kata Yui
tegas ketika aku mengajaknnya masuk ke salah satu pusat perbelanjaan di seoul
ini. Aku menghela nafas sebentar dan mulai kesal dengan tingkahnya yang sejak
tadi berisik bertanya kemana aku akan membawanya.
“ Baiklah.. dengarkan. Aku
sekali lagi diperintah umma-appaku dan umma-appamu untuk mengajakmu membeli
cincin pernikahan untuk besok. Mereka bilang tidak perlu yang mahal yang
penting kau dan aku suka” kataku berhenti sejenak untuk mengambil napas lalu
kembali melanjutkan..
“ Jadi karena itulah aku
menjemputmu kesekolah dan membawamu ke
pusat perbelanjaan ini. Apa ada lagi yang perlu aku jelaskan?” tanyaku
mengakhiri penjelasanku.
“ Kenapa tidak bilang dari
tadi?! Bodoh! Ayo Cepat! setelah itu kita main di game center” katanya lalu menarik tanganku memasuki salah
satu toko perhiasan dengan semangat. Apa bermain di game center begitu
menyenangkannya? Aissshh yeoja aneh! Aku benar-benar tidak mengerti dirinya.
Author POV
“ Aku mau beli 50 koin!” seru
Yui pada salah seorang wanita di meja kounter game center. Mereka baru saja
selesai memilih sepasang cicin pernikahan sederhana yang dibagian dalamnya bisa
diukir inisial nama mereka. Mereka pikir dengan memilih cincin itu nenek Yui
akan merasa senang dan menganggap mereka benar-benar menikah karena cinta.
Lagipula menurut Yui cincin itu cukup indah dipandang. Setelah selesai memilih
dan membayar cicin itu Yui segera menarik tangan Taemin dnegan semangat menuju
Game Center. Dan disinilah mereka sekarang. Bermain berbagai macam jenis
permainan yang disediakan.
“ Yes! Aku menang lagi! Rasakan
itu Namja Imut!” teriak Yui ketika ke 5 kalinya dia menang bermain balap motor
dengan Taemin. Taemin merenggut kesal.
“ Yak! Ayo ganti permainan yang
lain saja! Ayo!” seru Taemin kesal. Dia masih belum bisa menerima dikalahkan
oleh Yui dalam hal apapun. Dia menarik tangan Yui ke tempat permainan Dance.
“ Bagaimana dengan yang ini?
Kau pasti kalah dari ku!” seru Taemin senang. Yui tersenyum meremehkan.
“ Ayo kita buktikan!” tantang
Yui.
2 jam kemudian..
“ Kau memang pintar kalau
urusan pelajaran. Tapi urusan Game seperti itu saja kau kalah terus!” ejek Yui
ketika mereka sudah menghabiskan kira-kira 100 koin game.
“ Sudahlah.. aku tidak mau membahasnya.
Ini!” kata Taemin sambil memberikan 1 cone Chocolate Ice Cream kepada Yui. Yui
mengambilnya sambil tersenyum senang. Ia benar-benar puas bisa mengalahkan
Taemin seperti tadi.
“ Yak! Apa kau begitu senang
bisa mengalahkanku dalam hal bodoh seperti itu?” tanya Taemin kesal sambil
menjilati Banana Ice Cream-nya. Yui tertawa mengejek.
“ Iya, aku sangat senang.
Karena Hal bodoh seperti itu saja kau bisa kalah dariku” jawab Yui enteng.
Taemin menatap Yui kesal, namun segera berganti dengan senyum.
“ Kenapa kau tersenyum seperti
itu?” tanya Yui curiga.
“ Aku juga merasa sangat
senang. Sudah lama aku tidak bermain
bersama teman-temanku seperti tadi. Pihak Agency pasti melarangku melakukannya”
kata Taemin terdiam sejenak. Yui menatap wajah Taemin yang sedang tersenyum
itu.
“ Terima Kasih ya. Jeongmal
Gomawo yo” lanjut Taemin lalu menatap mata Yui. Yui menjadi salah tingkah
ditatap seperti itu.
“ Sudahlah.. aku.. aku tidak
melakukan apapun kok” kata Yui salah tingkah sambil memalingkan matanya dari
Taemin dan kembali menjilat Ice Creamnya. Dia terdiam sejenak lalu
melanjutkan..
“ A..aku juga mengucapkan
terimakasih ya. Karena biasanya aku hanya bermain sendirian. Dan kupikir
sekarang lebih menyenangkan bermain bersama seseorang dibanding bermain
sendiri” Yui menatap Taemin yang sedang tersenyum tipis.
“ waa.. Bukankah itu Taemin
SHINee?” seru seorang pengunjung pusat perbelanjaan itu.
“ Tidak mungkin! Lihat yeoja
yang ada di sebelahnya. Jelas-jelas yeoja itu siswi biasa. Jadi mana mungkin
namja itu uri maknae. Mungkin hanya mirip” sahut temannya. Taemin dan Yui
saling betukar pandang. Mereka rasa sudah saatnya mereka pulang sebelum
orang-orang sadar bahwa namja yang bersama Yui itu Taemin SHINee. Mereka segera
melangkahkan kaki terburu-buru keluar dari Pusat perbelanjaan itu.
***
“ Baiklah aku pulang dulu” kata
Taemin ketika sudah mengantar Yui sampai depan rumahnya. Yui tersenyum.
“ Apa kau tidak masuk dulu?”
tanya Yui. Taemin melihat jam tangannya, pukul 18.30 lalu menggeleng.
“ Tidak usah. Aku harus kembali
ke dorm dan bersiap untuk Konser jam 8
malam ini setelah itu bersiap-siap untuk besok.” Jawabnya.
“ Memang besok akan ada apa?”
tanya Yui penasaran. Taemin terbelalak menatap Yeoja itu.
“ Yak! Besok kan pernikahan
Kita! Kau lupa?” kata Taemin kaget. Yui juga kaget mendengarnya. Jadi... besok
dia dan Taemin... azzz kenapa dia bisa melupakan hal penting seperti itu.
“ Hehe maaf aku lupa. Ya sudah.
Kalau begitu aku juga harus bersiap-siap” kata Yui akhirnya. Taemin menatap Yui
sambil tersenyum.
“ Jangan lupa menonton Konser
yang ini ya.. Taruhannya masih berlaku Lhoo!” kata Taemin lalu menyalakan mesin
motornya dan membawanya menjauhi rumah Yui. Yui menatap Taemin yang
meninggalkannya, lalu mendesah pelan. Dia hampir lupa tentang taruhan itu. ‘aissshh
aku harus menontonnya, padahal aku sudah mengantuk’ pikir Yui lalu
melangkahkan kakinya memasuki rumahnya.
Esoknya..
Jinki memandang pintu
didepannya. Ia ingin masuk tapi dia ragu. Ia takut jika dia memasuki ruangan
itu dia akan membawa seseorang di dalamnya pergi dari tempat ini.
“ Arrggghh.. kenapa disaat
seperti ini aku tidak bisa melakukan apapun?” gumam Jinki frustasi. Setelah
berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan untuk tidak masuk saja. Ia memandang
pintu itu sedih lalu pergi kembali ke ruangan dimana acara utama akan diadakan...
Ruangan ini sudah didekorasi
sedemikian indahnya untuk acara sakral itu. Jinki memandang sekeliling ruangan
itu dengan hati yang pedih. Apa yang dia pikirkan? Dia tidak boleh seperti ini
terus, takdir sudah memutuskannya. Dia hanya harus menerima semuanya dengan
lapang dada. Sedikit demi sedikit ruangan itu mulai diisi oleh orang orang yang
memakai jas dan dress.
“ Jinki..” Jinki menoleh kearah
suara yang memanggilnya.
“ Sebentar lagi acaranya akan
dimulai, sebaiknya kau segera ajak rekan-rekanmu yang sudah tiba di depan untuk
duduk” kata Jin hye. Ia mengusap punggung Jinki sejenak. Jinki hanya mengangguk
dan segera menuju pintu depan untuk membawa Teman-teman SHINee nya duduk di
tempatnya sebelum acara dimulai.
Mereka semua sudah duduk di
kursi masing-masing. Tak lama kemudian terdengar suara piano yang menandakan acara
sudah dimulai.
Seorang yeoja dengan dress
putih memasuki ruangan di gandeng oleh Yesung. Seluruh ruangan menatapnya
kagum..
‘Betapa cantiknya dia’
Jinki memandang adiknya...
Ya.. tak kan lama lagi Yui dan
Taemin akan terikat.. sebentar lagi..
~To be Continued
Komentar
Posting Komentar