Langsung ke konten utama

For My Best Friend (Shida Mirai, Kamiki Ryunosuke Fanfiction)


Hy... aku bikin FF oneshoot lagi nih!! dibaca ya??! maaf klo gaje! m(-_-)m

author : Maulisa Yui-chan
 Rating  : PG 13+
 Cast    : Shida Mirai, Kamiki Ryunosuke, Yabu Kota Hey!Say! JUMP (Dokter Yabu)
Lenght  : oneshoot
            Tik tik tik.....
Kudengar suara rintik hujan di luar rumah sakit. Aku menoleh kearah luar. ‘Kalau hujan begini apa Ryu-kun akan datang?’ pikirku dalam hati. Ketika sedang berpikir, kudengar suara pintu kamar rawatku digeser (ceritanya settingnya di jepang jd pintu kamar rumah sakitnya digeser.. hehe). Aku menoleh kearah pintu.
“Ryunosuke! Kau datang?!” Kataku ketika melihat sahabatku yang berdiri di ambang pintu Kamar Rawatku dengan baju yang basah kuyup.
“ Handuknya mana, Mirai? Aku kebasahan nih!” jawabnya sambil memasuki kamar rawatku dan menutup pintu. Aku berjalan kearahnya sambil membawa handuk dan menyerahkannya. Ia mengambil handuk itu dan berkata “Arigatou!” lalu ia mengeringkan badannya yang basah kuyup itu. Aku berjalan ke arah tempat tidurku dan duduk diatasnya.
“ Kenapa hujan-hujan begini kau datang?” tanyaku padanya.
“ Memangnya kenapa? Selama ini aku memang selalu datang kan?!” jawabnya sambil terus berusaha mengeringkan diri. Ya, memang sejak 6 tahun yang lalu dia selalu datang untuk menjengukku disini.
Flashback~

Pertama kali aku melihatnya ia sedang berjalan dengan wajah tersenyum lebar di sepanjang koridor. Hari itu aku sedang berjalan-jalan. Aku bosan karena terus dikamar. Aku terus memperhatikan wajah cerianya. Tiba-tiba saja ia menyapaku “ Hei, perkenalkan namaku Kamiki Ryunosuke. Kita seumuran kan?! Siapa namamu?” kemudian kami mengobrol. Ia bercerita tentang lukanya dan sekolahnya. Ia masuk rumah sakit karena terluka akibat terlibat pertengkaran ketika melerai temannya yang sedang bertengkar. Saat itu kami masih berumur 9 tahun. Aku senang dengan keberadaan Ryunosuke di rumah sakit karena sebelumnya aku belum pernah punya teman. Sejak saat itu, selama 2 minggu aku selalu bermain bersamanya. Tapi hari ini ia akan pulang.
“ Mirai-chan aku akan pulang hari ini. Kata dokter lukaku sudah sembuh jadi aku diperbolehkan pulang!” kata Ryunosuke pada minggu keduanya di rumah sakit.  Aku menatapnya dengan sedih, tapi aku berusaha menunjukkan wajah gembiraku.
“ Waahh Bagus kalau begitu!” Kataku tersenyum padanya. Namun perlahan-lahan air mataku jatuh. Aku menangis.
“ Kenapa menangis Mirai-chan?” Tanya Ryunosuke. Ia mendekatiku dan menghapus air mataku dengan tangannya.
“ Hiks.. hiks aku.. aku pasti akan kesepian kalau tidak ada Ryu-kun!” kataku sambil menangis. Ia menatapku sambil tersenyum.
“ Kau tenang saja, setelah keluar rumah sakit aku akan mengunjungimu setiap hari sepulang sekolah!” kata Ryunosuke menghiburku. Aku mengangkat kepalaku menatapnya.
“ Aku akan datang setiap hari! Jadi kau tak akan kesepian kan?” katanya.
Flashback end~
“ Hei aku ini benar-benar bodoh ya? kan kau bisa pakai payung kesini!” Omelku pada kebodohannya.
“ Benar juga! Kenapa tidak terpikir olehku ya?!” katanya dengan bodohnya. Aku menghela napas karena kebodohannya.
“Baka!” makiku padanya. Ia hanya tersenyum mendengar makianku.
“ Apa kau baik-baik saja hari ini, Mirai-chan? Kau tidak kambuh kan?” tanya Ryu-kun padaku.
“ Hmm, akhir-akhir ini sudah jarang kambuh!” jawabku. Ia tersenyum.
“ Ahh iya aku lupa. Untung tidak basah!” serunya sambil mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan memberikannya padaku. Aku mengambilnya dan mengeluarkan isinya. Ternyata isinya adalah sebuah foto Kembang Api yang sangat indah. Aku belum pernah melihat Kembang api sungguhan.
“ Itu foto kembang api yang diambil oleh temanku ketika ia sedang datang kesebuah festival bersama pacarnya. Apa kau suka?”
“ Waaahh Kirei! Aku jadi ingin melihat kembang api sungguhan!” kataku sambil terus memandang takjub foto itu.
“ Baiklah kapan-kapan kita lihat bersama ya?! aku juga belum pernah melihatnya langsung” ajak Ryu-kun padaku.
“ Tapi.... pasti sulit untuk mendapatkan izin keluar rumah sakit. Aku sudah bertahun-tahun mencobanya tapi tak pernah diizinin!” jawabku lesu.
“ Benar juga ya?! hmm kalau begitu kita tunda saja debut nonton kembang api-nya sampai kau sembuh!” kata Ryu-kun sambil tersenyum.
“ Ahh tidak usah! Ryu-kun nonton duluan saja dengan pacarmu! Pacarmu pasti menantikkannya!” kataku. Aku kan tidak mungkin membiarkannya menunggu untuk waktu yang tak tahu berapa lama untuk menonton kembang api. Penyakit jantungku sudah ada sejak aku masih kecil. 7 tahun yang lalu semakin parah sehingga aku harus tinggal di Rumah Sakit ini. Rumah sakit ini sudah seperti rumahku sendiri. Untuk sembuhpun belum pasti kapan.
“ Aku tidak akan pacaran sebelum Mirai-chan sembuh! Jadi kau tak usah khawatir” katanya lagi.
“ Jangan begitu! Aku tidak ingin kau terpaksa karena aku!”
“ Siapa yang bilang aku terpaksa. Aku melakukannya karena aku ingin. Lagipula aku ingin melihat kembang api pertamaku dengan sahabat terbaikku ini!” katanya sambil tersenyum lebar. Aku menatapnya dan berjalan menghampirinya. Aku memeluknya. Dan menangis.
“ Arigatou, Ryu-kun. Doumo Arigatou!” ia mengusap-usap kepalaku lembut. Ia memang teman terbaikku.
***
“ Mirai-chan!” aku menoleh. Dan melihat Ryu-kun berdiri dengan senyum lebarnya.
“ Ryu.. hari ini sekolahnya pulang cepat ya?!” tanyaku
“ Hmm! Karena guru-guru sedang rapat kami pulang cepat!” jawabnya. Ia mengeluarkan setumpuk foto. Ia memberikannya padaku. Ternyata itu foto kucing yang sangat lucu!
“ Waahhh lucuuunyaaaa!!” seruku senang. “ Uh!”  Tiba-tiba dada sebelah kiriku terasa seperti ditindih benda yang sangat berat secara tiba-tiba. ‘Apa?? Tidak mungkin!!’
“Mirai??” kudengar Ryu memanggil namaku cemas. Foto-foto kucing lucu itu jatuh berserakkan di lantai. Lalu Ryu-kun berdiri dan berkata
“ Chotto matte, aku akan memanggilkan dokter!” kata Ryu-kun cemas. Aku memegang lengan bajunya untuk menahannya.
“ Tidak... Tidak perlu! Sudah baikkan! Aku sudah baikkan! Hh..hh” kataku terengah-engah. Ryu duduk kembali dan menatapku cemas.
“ Benar sudah baikkan??” tanyanya untuk meyakinkan.
“ Ya sudah baikkan kok..” kataku meyakinkannya dengan tersenyum. Sebenarnya ada satu hal yang belum kukatakan padanya. Dan aku tidak bisa mengatakannya. Lalu aku melihat Dokter Yabu sedang melewati kamarku dan berhenti ketika melihat Ryu.
“ Oh! Ryu-kun?!” kata Dokter Yabu.
“ Ahh dokter telat deh!!” kata Ryu-kun.
“ Eh??”
“ Ahh enggak kok dokter!” Kataku. Aku tidak ingin dokter jadi khawatir.
“ Hmm? Oh iya Ryu-kun sebaiknya kau segera bujuk Mirai-chan. Kalau tunggu lebih lama lagi...”
“ Tung...!” potongku namun tak dihiraukan oleh mereka.
“ Tubuhnya tak akan tahan lagi untuk operasi!” lanjut Dokter Yabu.
“ Hentikan dokter!!” Teriakku. Raut wajah Ryu-kun seketika itu juga kaget.
“ Apa?? Tidak akan kuat lagi?? Apa maksudnya ini?” tanya Ryu-kun.
“ Masa sih kau belum bilang?!” kata dokter padaku.
“ Bukan.. bukan begitu...!” sanggahku. Ryu menatapku dengan tatapan bingung. Aku terdiam. Bingung harus bicara apa.
“ Maaf Ryu.. aku.. aku harus Operasi untuk bisa sembuh sepenuhnya. Tapi kemungkinan sembuhnya hanya 25 persen. Tapi kalau aku tidak operasi aku hanya bisa hidup selama 1 tahun saja” kataku menjelaskan hal paling tidak ingin kukatakan padanya. Ia menatapku dengan marah.
“ Apa?? Satu tahun?? Jangan bercanda! Kenapa kau tidak bilang?!” teriaknya marah. Aku balum pernah melihatnya semarah itu padaku.
“ Tenanglah Ryu-kun. Aku memintamu untuk membujuknya dengan baik-baik.” Kata Doter Yabu.
“ Diam!!” bahkan ia yang selalu sopan saja berani membentak dokter Yabu.
“ Biarpun kemungkinan Sembuhnya hanya 1 persen. Kau masih punya kesempatan!” katanya marah. Kulihat wajahnya yang marah. Aku tahu akan seperti ini jadinya.
“ Setidaknya kalau tidak operasi aku bisa menemanimu selama 1 tahun” kataku lemah.
“ Meski Cuma sebentar aku ingin selalu bersamamu, Ryu” lanjutku.
“ Apa hanya 1 tahun? Cuma 1 tahun kan??” katanya.
“ Apa aku mau membertaruhkan 25 % itu!! Aku kan yang mau mati!!” teriakku kesal. Aku... aku tidak mau.. tidak mau. Aku ingin bisa bersama-sama dengan Ryu. Nggak secepat itu berpisah.
“ Aku hanya ingin bersamamu, Ryu” kataku lagi.
“ Baiklah. Jika kemungkinannya Cuma 25 persen. Aku akan mempertaruhkan 75 persennya untuk hidupku! Aku berjanji akan selalu menyayangi sahabatku, Mirai sampai aku mati!”
“ Dengan begini sama saja 100% kan?!”
***
Aku mengerjapkan mataku. Aku menolehkan kepalaku dan melihat Ryu yang tertidur di tepi ranjangku dengan kepala di atas tangannya yang dilipat diatas ranjang. Aku tersenyum melihatnya. ‘ Aku tidak akan pernah bisa menang darinya’. Aku melihat sebuah kamera digital didekat ranjangku. Kuraih kamera itu dan menyalakannya. Kuatur angle-nya agar bisa mengambil foto Ryu dengan sempurna.
Ctik! Bunyi kamera dan Bliztnya memenuhi kamar yang gelap itu. Kulihat Ryu yang bergerak dan mengerjapkan matanya terbangun. Mungkin karena bunyi kameranya.
“ Hmmm.... kau sedang memotret apa Mirai??” tanyanya sambil mengusap-usap matanya.
“ Eh.. Gomen Ryu. Aku hanya ingin mengambil fotomu. Soalnya aku ingin punya fotomu!” kataku dengan perasaan bersalah karena sudah membangunkannya. Ia menatapku dengan bingung.
“ Aku ingin punya foto Ryu, supaya kalau jantungku kambuh dan Ryu tak ada disini, aku bisa melihat foto Ryu dan merasa Ryu ada disampingku!” kataku lagi sambil tersenyum.
“ Kalau begitu, kita foto berdua saja. Dan nyalakan saja lampunya supaya terang!” kata Ryu dan berjalan menuju Sakelar Lampu dan menyalakannya. Ia berjalan kearahku dan mengambil kamera itu dari tanganku.
“ KATAKAN CHEEESSEEE!!”
Ctik!!
Aku melihat hasil foto kami dengan tersenyum.
“ Ryu... aku.. Operasi itu aku mau melakukannya!” kataku pada Ryu yang membuatnya tertegun menatapku. Dan kemudian memelukku erat.
“ Aku pasti mendukungmu! Gambatte ne~!” katanya.
“ Ya! aku sayang kau Ryu, Sahabat terbaikku!” kataku tulus.
“ Hmm! Aku juga sayang Mirai, Sahabat terbaikku!”
***
Seminggu sudah berlalu sejak aku memutuskan untuk mau melaksanakan operasi itu. Hari ini adalah hari Operasi yang sangat menentukan itu. Aku menoleh ke arah Jam dinding. Pukul 06.55. operasinya akan dimulai pukul 7 tepat tinggal 5 menit lagi. Tapi Ryu belum datang. ‘ apa terjadi sesuatu padanya?’ pikirku cemas.
“ Mirai-chan 5 menit lagi, saya jemput untuk ke ruang operasi. Sekarang saya mau menyiapkan segalanya dulu. Saya permisi” kata seorang suster. Aku mengangguk. Kudengar pintu kamar bergeser menutup.
“ Ryu.. kau dimana?” bisikku. Tiba-tiba kudengar pintu bergeser terbuka. Aku menoleh.
“ Ryu!!” seruku senang. Kulihat Ryu terengah-engah, sepertinya dia habis berlari. Bajunya pun kotor terkena lumpur.
“ Untung masih sempat!” kudengar ia berkata.
“ Ryu! Kemana saja kau? Kenapa bajumu kotor begitu?!” tanyaku. Lalu turun dari ranjang menghampirinya.
“ Tadi aku terjatuh di depan Tempat cetak foto. Ini untukmu!” katanya sambil memberikan selembar kertas foto padaku. Itu adalah foto yang kami ambil seminggu yang lalu. Aku mendongakkan kepala untuk menatapnya.
“ Kau kotor sekali!” kataku. Aku mengulurkan tanganku untuk membersihkan wajahnya. Tapi ia menghindar.
“ Ahh jangan disentuh nanti kau jadi kotor sebelum operasi!” katanya. Aku tersenyum.
“ Ryu.. kalau nanti aku tidak ada. Aku ingin kau berjanji untuk tidak sedih dan tidak melupakanku. Apapun yang terjadi aku akan selalu ada di hatimu kan?!” kataku tersenyum. Ryu menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca.
“ Janji ya?!” kataku sambil menunjukkan senyum termanisku yang mungkin akan jadi yang terakhir kuberikan untuknya.
***
“ Mirai..”
“ Mirai..”
Aku mengerjapkan mata ketika namaku dipanggil. Aku tersentak. ‘ aku masih hidup! Berarti...?!’. kulihat wajah gembira Ibuku dan dokter Yabu.
“ Mirai operasinya berhasil nak!” seru ibuku sambil memelukku erat.
“ Iya Okaasan.!” Jawabku senang. Ibuku melepaskan pelukkannya dariku.
“ Selamat ya Mirai-chan. Mulai sekarang kau bisa sekolah lagi!” kata Dokter Yabu tersenyum.
“ Ya. terimakasih dok!” ucapku senang. Aku melihat sekeliling mencari-cari sosok yang sangat ingin kutemui saat ini. tapi aku tak melihatnya di mana pun.
“ Okaasan, Ryu mana?” tanyaku pada ibuku. Tiba-tiba saja Raut wajah ibuku dan Dokter Yabu menjadi murung. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak.
“ Ada apa, Okaasan?”
“ Gomen.. Mirai-chan.. Ryunosuke-kun.. sudah tidak ada” jawab ibuku lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menangis.
“ Apa maksud Okaasan? Apa Ryu sudah pulang duluan?” tanyaku cemas. Perasaanku sangat tidak enak. Jangan-jangan..
“ Gomen Mirai-chan.. Ryunosuke-kun mengalami kecelakaan. Ia tertabrak mobil didepan tempat cetakfoto di Shibuya ketika menuju kesini. Dan meninggal di tempat.” Jawab Dokter Yabu.
Deg!
Apa yang dia katakan?? Itu tidak benar kan? Bohong kan??
“ Dokter bohong kan?! Tadi Ryu ada disini untuk memberikanku ini!” kataku pada dokter Yabu dan mengeluarkan foto kami dari bawah bantal. Tiba-tiba aku tersadar. Foto ini..
‘Tadi aku terjatuh di depan Tempat cetak foto. Ini untukmu!’ katanya sambil memberikan selembar kertas foto.
Aku merasakan air mataku terjatuh.
“ Ini semua Bohong kan?! Ini tidak mungkin! Sama saja bohong kalau aku hidup tapi Ryu tidak!! Okaasan ini bohong kan?!!” tanyaku lagi. Air mataku terus mengalir deras. Kenapa begini? Ya tuhan! Tiba-tiba mataku tertuju pada benda yang ada dibawah bantalku. Sebuah buku. Aku tidak merasa pernah meletakkan sebuah buku di bawah bantalku.
Aku ambil buku itu. Aku membuka halaman tengahnya. Ada bacaan disitu.
“Mirai chan... .. kalau nanti aku tidak ada. Aku ingin kau berjanji untuk tidak sedih dan tidak melupakanku. Apapun yang terjadi aku akan selalu ada di hatimu kan?!
Ini kata-katamu lhoo!! v(>.^)v
Pokoknya kau harus selalu bersemangat ya! janji?!”  
Aku menangis membaca tulisan itu. Ryu... maafkan aku.. aku akan selalu menyayangimu. Aku janji!
***
Sudah satu tahun sejak Ryu meninggal. Aku selalu mengunjungi makamnya setiap seminggu sekali. Sekarang aku sedang berdiri di samping makam Sahabat Terbaikku. Aku perlahan berjongkok meletakkan bunga diatas makamnya lalu memegang batu nisan bertuliskan namanya
‘KAMIKI RYUNOSUKE’
“ Hai Ryu! Apa kabar? Aku sangat merindukanmu! Apa kau merindukanku?”
“ Nggak kerasa ya, udah satu tahun kita pisah. Sekarang aku bisa sekolah lagi sepertimu dulu! Aku senang bisa dapat banyak sekali teman disekolah. Oh iya aku sudah pernah lihat kembang api sungguhan lhoo. Aku harap kau juga tenang ya disana. Aku harap kau bisa melihat banyak hal yang lebih indah dari Kembang api yang pernah kulihat. Kau tahu, aku benar-benar merindukanmu.” Kataku. Aku melihat jam tanganku. Lalu berdiri.
“ Ahh Gomen Ryu. Aku harus pergi. Ada kegiatan klub disekolah. Ja ne. Aku menyayangimu. Kau juga kan?” kataku lalu tersenyum dan berjalan menjauhi makam Ryu. Tiba-tiba angin lembut berhembus dan aku mendengar samar-samar suara yang kurindukan.
aku juga menyayangimu, Mirai’. Aku tersenyum dan mengangguk. Dan berjalan menjauhi makam Ryu.
~THE END~

Komentar

  1. ini cerita komik kan? aku pernah baca soale, persis ceritanya, hehe

    BalasHapus
  2. yap! ini aku adaptasi dari komik.. tp di komik itu mereka pacaran. udah gitu yg cowoknya mati di dpn kuil. trus prolognya aku bedain. :)
    makasih udahbaca :)

    BalasHapus
  3. wah Ryu!! kunjungi blog ku juga ya :D
    banayak yg pengen tak tanyain ttg blog juga ni >.<

    BalasHapus
  4. gimana gimana bagus ga ceritanya?? hehe
    mau tanya apa?? :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hands work "Digital Colouring Miku"

Hay hay!! I'm backk!! hehe akhir-akhir ini lagi keranjingan ngerjain digital colouring nihh.. nah kali ini miku yang jadi sasaran saya wkwk.. maaf ya kalo masih abal bgt! hehe Check this out aja lahh :) 

My Hands work (manga)

nahh yang ini tadinya gambar naruto ama Hinata tapi ku ubah.. ehh malah jadi mirip miku cewenya hehe.. buat visitor.. mohon komennya.. kalo ga bsa komen seenggaknya bisa voting hehe arigatou!! tolong jangan menyalahgunakan gmbar ini saya membuatnya dengan perjuangan.

I don’t want to see your sadness part 8 : ~Taemin Confessed~

I don’t want to see your sadness part 8 : ~Taemin Confessed~ Author              : Maulisa a.ka Mayuki a.ka Mayujita Main cast         : Yui Yoshioka as Lee Yui, Taemin as Lee Taemin, Lee Jinki as Onew  Suport cast      : Member SHINee, etc. You can find when you read. Length             : Sequel (8 of -) Genre               : Life, Family, Sad (?) Rating              : PG -16 Warning! Don’t Be a Copycat . Please make a sure with me if you want to re-publish this Fanfiction and don’t forget to write my name as the author. Thanks. Part 8  ~Taemin Confessed~ “ Skandal yang selama ini ditundingkan kepada Taemin SHINee dan Sulli f(x) akhirnya terungkap denga...